Pemerasan TKI Masih Terjadi di Bandara Soekarno Hatta

Sonntag, 19. August 2012

JAKARTA, selaluonline.com- Aksi pemerasan dan penipuan terhadap TKI di terminal Bandara Soekarno Hatta (Soeta) masih saja terjadi. Setibanya di tanah air, para pahlawan devisa itu kerap menjadi bulan-bulanan oknum tertentu dengan dalih memberi kemudahan dan fasilitas.

Kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur Hidayat, mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak Angkasa Pura II untuk mengatasi masalah itu.

"Saya sudah mengusulkan pembenahan ke Angkasa Pura karena kita enggak punya kewenangan di situ," ujar Jumhur, Rabu (21/3/2012).

Sebenarnya, kata Jumhur, pemerintah telah mengadakan perubahan dalam melayani TKI di dalam terminal Soeta. TKI telah diberikan lounge khusus di dalam bandara Soetta. Lounge tersebut dibuat sejak tahun 2005.

Kemudian, didirikan juga balai untuk kedatangan dan kepulangan para TKI ke tempat asalnya. Fasilitas tersebut semata dibuat untuk melindungi para TKI. Sebab, kata Jumhur, sebelumnya banyak kasus para TKI diperas, dibius, hingga dibunuh.

"Memang sebagian orang merasa tidak perlu ke gedung itu. Tapi bukan berarti harus ada permainan pungli," tambah Jumhur.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi segala macam bentuk pelayanan yang tidak menyenangkan, TKI harus berani melawan. TKI jangan mau diperas oleh oknum petugas bandara. "Ya dia jangan mau diperas. Tapi susah. TKI lugu juga," sebut dia.

Misalnya saja, sebut Jumhur, kalau ada porter, yakni jasa pembawa barang, menjajakan layanannya, sebisa mungkin TKI harus menolaknya. Maksudnya, lebih baik para TKI membawa barangnya sendiri. Jika ada TKI yang kehilangan bagasi berarti harus diurus ke pengelola bandara.

Jumhur menyimpulkan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Angkasa Pura II untuk menanggapi keluhan dari para TKI. "Saya keberatan. Saya akan berkordinasi dengan Angkasa Pura," pungkasnya.

Seperti diketahui, sejumlah TKI mengeluh dengan pelayanan yang mereka terima di Bandara Soetta. Sampai-sampai mereka menganggap Soetta sebagai tempat yang "angker".

Buruknya pelayanan dimulai dari proses pemeriksaan yang tidak wajar oleh petugas bandara sampai hilangnya barang bawaan sering mereka alami. Bahkan ada juga yang merasa dikriminalisasi.

Salah satunya adalah pengalaman Aulia, TKI asal Hong Kong yang mengalami pemerasan oleh petugas di Bandara Soetta pada Januari 2012 lalu. Aulia mengatakan, dia dikenakan biaya tambahan yang tidak wajar akibat barang bawaannya yang menurut petugas bandara melebihi batas maksimum beban bagasi.

"Batas maksimumnya mereka bilang hanya mencapai 25 kg. Di situ saya adu argumentasi sedikit dengan petugas. Ketika masih di Hong Kong, saya sudah diberitahu untuk batas maksimum bagasi bisa mencapai 35 kg," jelasnya.

Dari Hong Kong, ia menggunakan penerbangan dengan Maskapai Cathay Pacific kemudian untuk penerbangan lanjutan ke Semarang akan menaiki pesawat Garuda.

Setelah adu argumen akhirnya Aulia menuruti kemauan petugas yang mengharuskannya membayar denda kelebihan beban bagasi.

Ia pun mendapatkan perlakuan buruk lagi saat hendak mencari informasi hotel yang dekat dengan bandara. Secara terang-terangan petugas bandara meminta uang untuk informasi yang akan diberikan.

Tetapi Aulia menolak dengan mengatakan dirinya tidak ada uang lagi untuk membayar hal itu. Walau begitu, tetap saja petugas itu memaksa secara halus.

"Mbak... Kalau mbak nggak ada rupiah, dollar juga nggak papa kok. Kita juga menerima," kata petugas tersebut. (mas/kcm)

Sumber:
http://selaluonline.com/detail-4664-pemerasan-tki-masih-terjadi-di-bandara-soekarno-hatta.html

Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen